Selasa, 05 Februari 2013

bahasa indonesia


·         . MAKALAH BAHASA INDONESIA “Sejarah dan Kedudukan Bahasa Indonesia” Oleh Ristiana NPM 1113053097 Dosen Pengampu : Dr. suwarjo, M. Pd. Mata Kuliah : Bahasa IndonesiaPROGRAM PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASARFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2011 1
·         2. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat yang memakaibahasa Indonesia sebagai alat untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari danmengakui bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasanasionalkita, tetapi tidak mengetahui bagaimana perkembangan bahasaIndonesia dan apa kedudukan bahasa Indonesia. Untuk itulah, materi ini sangat penting untuk dipelajari, karena tentusangat disayangkan jika sebagai pemakai bahasa Indonesia tidak mengetahuisejarah perkembangan dan kedudukan bahasa Indonesia. Lebih dari itu,sebagai seorang guru, materi ini menjadi modal awal untuk menjadi pengajarbahasa Indonesia yang baik di SD, karena dengan menguasai materi ini,berarti telah memiliki wawasan yang lebih luas tentang bahasa Indonesia yangdapat mendukung tugas dalam membimbing anak didik agar semakin matangpengalaman berbahasanya dan semakin tumbuh sikap positifnya terhadapbahasa Indonesia.B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas ditemukan beberapa permasalahan,diantaranya: 1. Bagaimanakah sejarah bahasa Indonesia? 2. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diterima sebagai bahasa Nasional? 3. Bagaimanakah fase-fase dalam perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional? 4. Bagaimanakah kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional? 5. Bagaimanakah kedudukan bahasaIndonesia sebagai bahasa Negara? 2
·         3. C. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui sejarah bahasa Indonesia. 2. Untuk menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diterima sebagai bahasa Nasional. 3. Untuk menjelaskan fase-fase penting dalam perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional. 4. Untuk menjelaskan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional. 5. Untuk menjelaskan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. 3
·         4. BAB II PEMBAHASANA. Sejarah Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimanadisebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36 “bahasa Negaraialah bahasa Indonesia”. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsaIndonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.Meski demikian, hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasadaerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu seperti bahasa Madura, bahasaMelayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan lain-lainl. Untuk sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya, bahasa Indonesiaadalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasapertama. Bahasa Indonesia merupakan sebuah dialek bahasa Melayu yangmenjadi bahasa resmi Republik Indonesia sebagai bangsa Indonesia yang,tentunya akan lebih berkesan positif jika kita menjadikan bahasa Indonesiasebagai bahasa nomor satu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejakdari zaman dahulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (linguafranca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir diseluruh Asia Tenggara sejak abad ke VII. Bukti yang menyatakan itu ialahditemukannya prasasti di Kedukan Bukit tahun 683 M (Palembang), TalangTuwo tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur tahun 686 M (Bangka Barat).Prasati itu bertuliskan huruf Pra-Nagari berbahasa Melayu Kuno. BahasaMelayu Kuno itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di JawaTengah juga ditemukan Prasasti tahun 832 M dan di Bogor tahun 942 M yangmenggunakan bahasa Melayu Kuno. 4
·         5. Melayu Kuno Penyebutan pertama istilah Bahasa Melayu sudah dilakukan pada masasekitar 683-686 M, yaitu angka tahun yang tercantum pada beberapa prasastiberbahasa Melayu Kuno dari Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti iniditulis dengan aksara Pallawa atas perintah raja Kerajaan Sriwijaya. WangsaSyailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuno di JawaTengah. Yang semuanya bertuliskan Pra-Nagari dan bahasanya bahasaMelayu Kuno memberi petunjuk bahwa bahasa Melayu dalam bentuk bahasaMelayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya. Berikut ini kutipan sebagian bunyi batu bertulis Kedudukan Bukit.“Swastie syrie syaka warsaatieta 605 ekadasyii syuklapaksa wulan waisyaakhadapunta hyang naayik di saamwan mangalap siddhayaatra di saptamiesyuklapaksa wulan jyestha dapunta hyang marlapas dari minanga taamwan...”“(Terjemahan dalam bahasa Melayu sekarang (bahasa Indonesia): Selamat!Pada tahun Saka 605 hari kesebelas pada masa terang bulan Waisyaakha, tuankita yang mulia naik di perahu menjemput Siddhayaatra. Pada hari ketujuh,pada masa terang bulan Jyestha, tuan kita yang mulia berlepas dari MinangaTaamwan...)” Melayu Klasik Karena terputusnya bukti-bukti tertulis pada abad ke-9 hingga abad ke-13,ahli bahasa tidak dapat menyimpulkan apakah bahasa Melayu Klasikmerupakan kelanjutan dari Melayu Kuno. Catatan berbahasa Melayu Klasikpertama berasal dari Prasasti Terengganu berangka tahun 1303. Seiringdengan berkembangnya agama Islam dimulai dari Aceh pada abad ke-14,bahasa Melayu klasik lebih berkembang dan mendominasi sampai pada tahapdi mana ekspresi Masuk Melayu berarti masuk agama Islam. Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu semakin jelas daripeninggalan kerajaan Islam baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan padabatu nisan di Minyeh Tujo, Aceh tahun 1830 M, maupun hasil susastra (abadke-16 dan ke-17) seperti syair Hamzah Fansuri, hikayat raja-raja Pasai, sejarahMelayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin. 5
·         6. Bahasa Melayu menyebar kepelosok Nusantara bersamaan denganmenyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudahditerima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau,antarsuku, antarpedagang, antarbangsa dan antarkerajaan. Karena bahasaMelayu tidak mengenal tingkat tutur. Bahasa Melayu dipakai diwilayah Nusantara, dalam pertumbuhannyadipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakatadari berbagai bahasa terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasaArab dan bahasa Eropa. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi danmendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia.Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakanbahasa Melayu. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar.Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengantoleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dariberbagai bahasa yang digunakan para penggunanya. Bentuk yang lebih resmi,disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaandi sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karenapenggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif BahasaMelayu Pasar. Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasarmengancam keberadaan bahasa dan budaya Belanda berusaha meredamnyadengan mempromosikan Bahasa Melayu Tinggi, di antaranya denganpenerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka.Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah telanjur diambil oleh banyak pedagangyang melewati Indonesia. Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit duakelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa MelayuPasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbataspemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai“lingua franca”, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. 6
·         7. Bahasa Indonesia Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dariSumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada KongresNasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesiasebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidakmemilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritaspada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkandari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknyadari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantaradalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jangdinamakan Bahasa Indonesia jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoenpokoknja berasal dari Melajoe Riaoe, akan tetapi jang soedah ditambah,dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe,hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia;pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroesdilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaanIndonesia". atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa IndonesiaII 1954 di Medan, Sumatra Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialahbahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikandengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia". Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporaldari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masihsama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasaMelayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia barudianggap lahir atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928.Dimana, Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulanpergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi BahasaIndonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia.Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmidiakui keberadaannya dan ditetapkan dalam UUD 1945 pasal 36. 7
·         8. B. Faktor-faktor yang Menyebabkan Bahasa Melayu Diterima menjadi Bahasa Nasional Ada beberapa faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat sebagaibahasa Nasional. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, bahasa melayu telah digunakan sebagai bahasa kebudayaan,yaitu sebagai bahasa yang digunakan dalam buku-buku yang dapatdigolongkan sebagai hasil sastra. Selain itu, bahasa Melayu telah digunakansebagai bahasaresmi dalam masing-masing kerajaan nusantara yaitu sekitarabad ke 14. Selainitu harus diingat bahwa penyebaran bahasa Melayu bukanhanya terbatas padadaerah sekitar selat Malaka atau Sumatera saja, jauh lebihluas dari itu. Ini dapatdibuktikan dengan terdapatnya berbagai naskah ceritayang ditulis dalam bahasaMelayu pada berbagai tempat yang jauh dariMalaka. Dengan datangnya orang-orang Eropa ke Indonesia, fungsi bahasaMelayusebagai bahasa perantara dalam perdagangan semakin intensif. Orang-orangEropa malah tidak sadar telah ikut memperluas penyebaranbahasaMelayu.Jadi, sejak lama, dari masa Sriwijaya juga Malaka yang saatitumerupakan pusat perdagangan, pusat agama, dan ilmu pengetahuan,bahasaMelayu telah digunakan sebagai Lingua Franca atau bahasaperhubungan diberbagai wilayah Nusantara. Dengan bantuan para pedagangdan penyebaragama, bahasa Melayu menyebar ke seluruh pantai di nusantara,terutama dikota-kota pelabuhannya. Akhirnya, bahasa ini lebih dikenal olehpendudukNusantara dibandingkan dengan bahasa daerah lainnya. Telah ditemukan beberapa bukti tertulis mengenai bahasa Melayu tuapadaberbagai prasasti dan inkripsi. Bukti-bukti berupa prasasti antara lain:prasastiKedukan Bukit (tahun 683 M), di Talang Tuwo (dekat Palembang,bertahun684 M), di Kota Kapur (Bangka Barat, tahun 686 M), di Karang Brahi(antaraJambi dan Sungai Musi, berahun 688 M). Sedangkan dalam bentukinskripsidiantaranya, Gandasuli di daerah Kedu, Jawa Tengah, bertahun 832M. Adanya berbagai dialek bahasa Melayu yang tersebar di seluruhNusantaraadalah merupakan bukti lain dari pertumbuhan dan persebaran bahasaMelayu.Misalnya, dialek Melayu Minangkabau, Palembang, Jakarta 8
·         9. (Betawi),Larantuka, Kupang, Ambon, Menado, dan sebagainya. HasilkesusastraanMelayu Lama dalam bentuk cerita penglipur lara, hikayat,dongeng, pantun,syair, mantra, dan sebagainya juga merupakan bukti daripertumbuhan danpersebaran bahasa Melayu. Di antara karya sastra lama yangterkenal adalahSejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang gelarBendahara PadukaRaja yang diperkirakan selesai ditulis pada tahun 1616.Selain itu juga adaHikayat Hang Tuah, Hikayat Sri Rama, Tajus Salatin, dansebagainya(Supriyadi dkk. 1992, Keraf, 1978). Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa ketika orang-orangBaratsampai ke Indonesia, yaitu sekitar abad XIV, mereka menemukan bahwabahasaMelayu telah dipergunakan sebagai bahasa resmi dalam pergaulan,danperdagangan. Menurut Supriyadi dkk. (1992) hal ini dikuatkan olehkenyataantentang seorang Portugis, Pigafetta, setelah mengunjungi Tidore, iamenyusundaftar kata Melayu-Italia, sekitar tahun 1522. Ini membuktikanketersebaranbahasa Melayu yang sebelum itu sudah sampai ke kepulauanMaluku.Begitupun, dalam pendudukan Belanda, mereka menemukankesulitanketika bermaksud menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasapengantar. Akhirnya, sebagaimana sudah diuraikan pada bagaian awal subunit ini,Belandamenyatakan bahwa pengajaran di sekolah-sekolah bumi putradiberikan dalambahasa Melayu atau bahasa daerah lainnya. Hal itu tertuangdalam keputusanpemerintah kolonial yaitu K.B 1871 nomor 104 (Keraf,1978). Kedua, sistem aturan bahasa Melayu, baik kosa kata, tata bahasa, ataucaraberbahasa, mempunyai sistem yang lebih praktis dan sederhana sehinggalebihmudah dipelajari. Sementara itu bahasa Jawa atau bahasa Sundamempunyaisistem bahasa yang lebih rumit. Dalam kedua bahasa itu dikenalaturan tingkatbahasa yang cukup ketat. Ada tingkat bahasa halus, sedang, kasar,bahkansangat kasar, dengan kosa kata dan struktur yang berlainan. Ketiga, kebutuhan yang sangat mendesak yang dirasakan olehparapemimpin dan tokoh pergerakan akan adanya bahasa pemersatu yangdapatmengatasi perbedaan bahasa dari masyarakat Nusantara yang 9
·         10. memilikisejumlahbahasa daerah. Bahasa itu harus sudah dikenal khalayak dantidak terlalu sulitdipelajari. Kriteria ini terpenuhi oleh bahasa Melayu sehinggaakhirnya bahasainilah yang dipilih dan ditetapkan sebagai bahasa Indonesiaatau bahasaNasional.C. Fase-fase Penting dalam Perkembangan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Nasional Untuk memudahkan pemahaman mengenai perkembangan Bahasa Melayumenjadi Bahasa Indonesia, kita bagi dalam beberapa fase/masa dan peristiwayang dianggap penting. Fase-fase tersebut adalah sebagai berikut : Fase Pertama : Masa Prakolonial Beberapa bukti tertulis mengenai Bahasa Melayu tua ditemukan padaberbagai prasasti dan inkripsi. Diantaranya prasasti Kedukan Bukit (683 M),di Talang Tuo (dekat Palembang, bertahun 684 M), di Kota Kapur (BangkaBarat, 686 M), di Karang Berahi (antara Jambi dan Sungai Musi, 688 M), daninkripsi Gandasuli di daerah Kedu, Jawa Tengah, bertahun 832 M. Sebagai bukti lain dari pertumbuhan dan persebaran Bahasa Melayu, dapatdiidentifikasi melalui adanya berbagai dialek Melayu yang tersebar di seluruhNusantara. Misalnya dialek Melayu Minangkabau, Palembang, Jakarta(Betawi), Larantuka, Kupang, Ambon, Manado, dan sebagainya. Juga,banyaknya hasil kesusastraan Malayu Lama dalam bentuk cerita penglipurlara, hikayat, dongeng, pantun, syair, mantra, dan sebagainya. Di antara karya sastra lama yang terkenal adalah Sejarah Melayu karyaTun Muhammad Sri Lanang gelar Bandahara Paduka Raja yang diperkirakanselesai ditulis tahun, 1616. Selain itu juga ada Hikayat Hang Tuah, Hikayat SriRama, Tajus Salatin, dan sebagainya. Fase Kedua : Masa Kolonial Sekitar abad XVI ketika orang-orang Barat sampai di Indonesia, merekamenemukan bahwa bahasa Melayu telah dipergunakan sebagai bahasa resmidalam pergaulan, perhubungan, dan perdagangan. Hal itu dikuatkan olehkenyataan tentang seorang Portugis, Pigafetta, setelah mengunjungi Tidore. Ia 10
·         11. menyusun daftar kata Melayu-Italia, sekitar tahun 1522. Ini membuktikanketersabaran bahasa Melayu yang sebelum itu sudah sampai ke kepulauanMaluku. Dalam pada itu, semasa pendudukan Belanda, mereka menemukankesulitan ketika bermaksud menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasapengantar. Akhirnya, turunlah keputusan pemerintah kolonial yaitu K.B 1871no. 104 yang menyatakan bahwa pengajaran di sekolah-sekolah bumi putradiberikan dalam bahasa Melayu atau bahasa daerah lainnya. Fase Ketiga : Masa Pergerakan. Awal abad ke-20 dapat dikatakan sebagai masa permulaan perkembanganbahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia. Banyak faktor yang mendorong halitu terjadi. Di antaranya, dan yang paling utama adalah faktor politik. Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan berbagaibahasa yang beraneka pula, merasa sulit mencapai kemerdekaan jika tidak adaalat pemersatu. Dan alat itu adalah suatu bahasa guna menyatakan pikiran,perasaan, dan kehendak, yang dapat menjembatani ketergangguan dankesenjangan komunikasi antara suku bangsa dengan bahasanya yang berbeda-beda. Itulah sebabnya, pada tanggal 28 Oktober 1928, dikumandangkanlahikrar Sumpah Pemuda : Berbangsa satu, bangsa Indonesia, bertanah air satutanah air Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Selanjutnya, berbagai peristiwa penting dalam kaitannya denganperkembangan Bahasa Indonesia. Diantaranya adalah :1. Penyusunan ejaan resmi Bahasa Melayu pada tahun 1901 oleh Ch. A. van Ophuysen yang termuat dalam Kitab Logat Melayu. Ejaan ini disebut Ejaan van Ophuysen.2. Pendirian Taman Bacaan Rakyat (Commisie voor de volkslectuur) pada tahun 1908, untuk selanjutnya pada tahun 1917 diubah namanya menjadi Balai Pustaka.3. Ketetapan Ratu Belanda pada tahun 1918 yang memberikan kebebasan kepada para anggota Dewan Rakyat (Volksraad) untuk menggunakan Bahasa Melayu dalam forum. 11
·         12. 4. Peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang diantaranya menetapkan Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu sebagai Bahasa Nasional.5. Berdirinya angkatan Pujangga Baru atau angkatan ’33 pada tahun 1933 yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Angkatan Pujangga Baru yang sebenarnya nama suatu majalah sebagai wadah ekspresi budaya dan sastra ini besar peranannya dalam membantu perkembangan Bahasa Indonesia.6. Kongres Bahasa Indonesia I di Solo tahun 1938. Kongres ini diadakan sebagai tindak lanjut dari Kongres Pemuda 1928. Di samping itu juga karena adanya kesan umum mengenai pemakaian Bahasa Indonesia yang cukup kacau. Jadi Kongres ini diselenggarakan untuk mencari pegangan bagi para pemakai bahasa, mengatur bahasa serta mengusahakan agar Bahasa Indonesia tersebar lebih luas lagi.7. Peristiwa pendudukan Jepang di Indonesia antara 1942-1945. Pada masa ini justru bangsa Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Betapa tidak ? Di satu sisi pemerintah Jepang melarang penggunaan Bahasa asing seperti Bahasa Belanda dan Inggris, di sisi lain maksud mereka untuk menggunakan Bahasa Jepang sebagai alat komunikasi pun tidak memungkinkan karena memang belum dikenal pleh rakyat Indonesia. Akhirnya, Bahasa Indonesialah yang dijadikan alat perhubungan satu- satunya. Dalam pada itu, berbagai karya sastra, drama, puisi, cerpen banyak dihasilkan sehingga pertumbuhan Bahasa Indonesia pun semakin pesat.8. Penetapan fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahsa Negara pada tanggal 18 Agustus 1945, dan dinyatakan dalam UUD ’45 Bab XV, pasal 36.9. Penetapan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi untuk memperbaiki Ejaan van Ophuysen, pada tanggal 19 Maret 194710. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tahun 1954. Hasil Kongres ini di antaranya adalah saran pembentukan badan yang kompeten yang bertugas untuk menyempurnakan Bahasa Indonesia. Juga diusulkan pemabaruan ejaan, pembentukan komisi istilah, dan sebagainya. 12
·         13. 11. Penetapan pemakaian ejaan baru oleh Presiden Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan baru ini dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).12. Pengubahan nama Lembaga Bahasa Nasional yang selama itu menangani pelbagai hal yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Indonesia/daerah, menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 Februari 1975.13. Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta tahun 1978.14. Penetapan Bulan Bahasa pada tanggal 28 Oktober 1980. Peristiwa ini dilaksanakan selama satu bulan dalam setiap tahun yaitu pada setiap bulan Oktober.15. Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta tahun 1982.16. Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta tahun 1988. Pada Kongres ini diperkenalkan pula Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memuat 62.100 butir masukan termasuk ungkapan dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang disusun di bawah koordinasi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.D. Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di kawasan RepublikIndonesia ini. Pentingnya peranan bahasa Indonesia itu, sebagaimana yangtelah diuraikan pada subunit 1, antara lain bersumber pada ikrar ketigaSumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: “Kami putra dan putri Indonesiamenjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Selain itu,ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara pada tanggal 18Agustus 1945, dinyatakan dalam UUD 1945 bab XV pasal 36. Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1998) dinyatakanbahwa masih ada beberapa alasan lain (selain yang telah dikemukakan di atas)mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka di antaraberatus-ratus bahasa Nusantara yang masing-masing amat penting bagipenuturnya sebagai bahasa ibu. 13
·         14. Pertama, jumlah penuturnya. Jumlah penutur bahasa Indonesia mungkintidak sebanyak bahasa Jawa atau Sunda, tetapi jika pada jumlah ituditambahkan penutur dwibahasawan yang menggunakan bahasa Indonesiasebagai bahasa pertama atau bahasa kedua, maka kedudukannya dalam jumlahpenutur berbagai bahasa di Indonesia ada di peringkat pertama. Lagi pula,jumlah penutur asli bahasa Indonesia lambat-laun pasti akan bertambah. Kedua, luas penyebarannya. Bahasa Indonesia jelas tidak ada yangmenandingi penyebarannya di Indonesia. Sebagai bahasa setempat, bahasaIndonesia dipakai orang di daerah pantai timur Sumatera, daerah pantaiKalimantan. Jenis kreol bahasa Melayu-Indonesia didapati di Jakarta dansekitarnya. Sebagai bahasa kedua, tersebar dari Sabang sampai Merauke ataudari ujung barat sampai ke timur; dari pucuk utara sampai ke batas selatannegeri kita. Sebagai bahasa asing, bahasa Indonesia dipelajari dan dipakai diantara kalangan terbatas di beberapa negara misalnya di Australia, Filipina,jepang, Korea, Rusia, India dan sebagainya. Ketiga, peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budayalain yang dianggap bernilai. Patokan yang ketiga ini mengingatkan kita akanseni kesusastraan yang mengagumkan yang dihasilkan dalam bahasa Jawa,Sunda, Bali, dan Minangkabau, misalnya. Akan tetapi, di samping susastraIndonesia modern yang dikembangkan oleh sastrawan yang beraneka ragamlatar bahasanya, bahasa Indonesia pada masa kini berperan juga sebagai saranautama, di luar bahasa asing, di bidang ilmu, teknologi, dan peradaban modernbagi manusia Indonesia. Untuk itulah, sudah sangat wajar jika bahasa Indonesia salah satukedudukannya adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan sebagai bahasanasional ini dimiliki sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28Oktober 1928. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsisebagai:1. Lambang kebanggaan kebangsaan; Sebagai lambang kebanggaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilainilaisosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Dengan melalui bahasa 14
·         15. nasionalnya, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budayayang dijadikan pegangan hidup. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesiaperlu kita pelihara dan kita kembangkan pemakaiannya.2. Lambang identitas nasional; Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia kita junjung disamping bendera dan negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasaIndonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula, sehingga ia serasidengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat memilikiidentitasnya sendiri hanya apabila masyarakat pemakainya membina danmengembangkannya sedemikian rupa sehingga ia bersih dari unsur-unsurbahasa lain, terutama bahasa asing.3. Alat pemersatu berbagai-bagai suku bangsa Sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsadengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda ke dalamsatu kesatuan yang bulat, bahasa Indonesia memungkinkan berbagai-bagaisuku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatudengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepadanilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan.Bahkan, dengan bahasa nasional kita, kita dapat meletakkan kepentingannasional jauh di atas kepentingan daerah atau golongan.4. Alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Berkat adanyabahasa nasional kita, kita dapat berhubungan satu dengan yang lainsedemikian rupa sehingga kesalahfahaman sebagai akibat perbedaan latarbelakang sosial budaya dan bahasa dapat dihindari. Dengan demikian, fungsikeempat ini, latar belakang sosial budaya dan latar belakang kebahasaan yangberbeda-beda tidak akan menghambat adanya perhubungan antar daerah danantar budaya (Suhendar dan Supinah, 1997) 15
·         16. E. Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara Dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36, telah ditetapan Bahasa Indonesiasebagai bahasa Negara. Dengan demikian, selain berkedudukan sebgai bahasanasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara. Dalamkedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagaiberikut:1. Bahasa resmi kenegaraan Dalam kaitannya dengan fungsi ini bahasa Indonesia dipergunakan dalamadminstrasi kenegaraan, upacara atau peristiwa kenegaraan baik secara lisanmaupun dalam bentuk tulisan, komunikasi timbal-balik antara pemerintahdengan masyarakat. Dokumen-dokumen dan keputusan-keputusan serta surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemeritah dan badanbadankenegaraan lainseperti DPR dan MPR ditulis di dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato,terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan di dalam bahasa Indonesia.Demikian halnya dengan pemakaian bahasa Indonesia oleh warga masyarakatkita di dalam hubungannya dengan upacara, peristiwa, dan kegiatankenegaraan. Suhendar dan Supinah (1997) menyatakan bahwa untuk melaksanakanfungsinya sebagai bahasa resmi kenegaraan dengan sebaikbaiknya, pemakaianbahasa Indonesia di dalam pelaksanaan adminstrasi pemerintahan perlusenantiasa dibina dan dikembangkan, penguasaan bahasa Indonesia perludijadikan salah satu faktor yang menentukan di dalam pengembanganketenagaan seperti penerimaan karyawan baru, kenaikan pangkat baik sipilmaupun militer, dan pemberian tugas khusus baik di dalam maupun di luarnegeri.2. Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan baik formal atau nonformal, dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Masalah pemakaian bahasa Indonesia sebagaisatu-satunya bahasa pengantar di segala jenis dan tingkat pendidikan diseluruh Indonesia, menurut Suhendar dan Supinah (1997), masih merupakanmasalah yang meminta perhatian. 16
·         17. 3. Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah. Dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia tidak hanyadipakai sebagai alat komunikasi timbal-balik antara pemerintah denganmasyarakat luas atau antar suku, tetapi juga sebagai alat perhubungan di dalammasyarakat yang keadaan sosial budaya dan bahasanya sama.4. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi Dalam kaitan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yangmemungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasionalsedemikian rupa sehingga ia memiliki identitasnya sendiri, yangmembedakannya dengan bahasa daerah. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baikdalam bentuk penyajian pelajaran, penulisan buku atau penerjemahan,dilakukan dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian masyarakat bangsa kitatidak tergantung sepenuhnya kepada bangsa-bangsa asing di dalam usahanyauntuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern sertauntuk ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Terkait dengan hal itu, Suhendar dan Supinah (1997) mengemukakan bahwabahasa Indonesia adalah atu-satunya alat yang memungkinkan kita membinaserta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga iamemiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya darikebudayaan daerah. 17
·         18. BAB III PENUTUPA. Kesimpulan Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimanadisebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36 “bahasa Negaraialah bahasa Indonesia”.Sejarah bahasa Indonesia telah tumbuh danberkembang sejak sekitar abad ke VII dari bahasa Melayu yang sejak zamandahulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukanhanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh AsiaTenggara. Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dariSumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, dicanangkanlah penggunaanBahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan.Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmidiakui keberadaannya dan ditetapkan dalam UUD 1945 pasal 36.Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesiaa. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Adapun beberapa fungsinya adalah: 1) Lambang kebanggaan nasional 2) Lambang identitas nasional 3) Alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya 4) Alat perhubungan antarbudaya antardaerah.b. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara/Resmi Adapun bahasa Indonesia befungsi sebagai: 1) Bahasa resmi kenegaraan 2) Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan 3) Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional 4) Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern. 18
·         19. B. Saran Sebagai seorang guru pemahaman mengenai sejarah dan kedudukanbahasa Indonesia perlu diperluas. Karena untuk bekal mengajar peserta didikagar kemampuan berbahasa mereka lebih matang dan untuk menumbuhkansikap positif dalam berbahasa Indonesia. 19

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar